Minggu, 5 Mei 2013
Alarm pun bunyi, dan kita bangun
sebagian ada yang mandi, ada yang sholat subuh, tapi pas makan kita
bareng-bareng. Sekitar jam 7:30 kita berangkat menuju Keraton, gak berasa
banget perjalanannya sebentar.
Sebelum masuk, kita sempet duduk-duduk
ditempat penjual oleh-oleh ada yang beli topi lah, ada yang beli mainan tiup
lah. Gua hanya puas mem-paparazzi mereka hahahah.
Nah, setelah pintu gerbang
Keraton terbuka, kita mulai masuk dan mendengarkan pemandu berbicara tentang
sejarah keraton. Gua mau cerita sedikit tentang Keraton.
KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan istana resmi Kesultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di kota Yogyakarta, Daerah
Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tanggal 13 Februari
1755 atau pada tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian
bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Kanjeng Sultan Hamengku Buwana
Senapati Ing Ngalaga Ngadurrahman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ing
Ngayogyakarta Hadiningrat Ingkang Jumeneng Kaping Sepisan.
Berdirinya keraton Kesultanan
Yogyakarta ini bertepatan dengan perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari yang
berisi tentang Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat dibagikan kepada
Pangeran Mangkubumi, sedangkan yang bagian timur diberikan kepada Raden Mas
Said yang diizinkan memakai gelar Sri Susuhan Paku Buwana tersebut dilakukan
karena sebelumnya telah terjadi perselisihan antara calon penerus Kerajaan
Mataram, yakni Pangerang Mangkubumi dan Raden Mas Said. Dimana perselisihan itu
disebabkan oleh campur tangan VOC didalam kerajaan Mataram, sehingga terjadilah
perjuangan atau perselisihan perebutan
tahta antara tahun 1747-1755.

Karena tempatnya berada
ditengah-tengah Jogja, dimana ketika diambil garis lurus antara gunung Merapi
dan laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton Jogja
merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah
Jawa.

Walaupun kesultanan tersebut
secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks
bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah
tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini.

Sekian cerita gua tentang Keraton.
Sesudah melihat-lihat komplek keraton, kita berjalan menuju penjual souvenir
keraton. Sehabis itu hobi paparazzi gua pun muncul lagi, dan hasilnya...
Udah beli minum, kita langsung masuk
ke suatu tempat yang didalemnya rata-rata isinya guci semua, tapi ada yang
mengalihkan pandangan gua, dompet yang menurut gua rumit untuk dibikin, dan
akhirnya gua beli itu buat Ibu gua.
Udah sih yaaa Cuma gitu-gitu aja, kita
lanjut lagi ke Parangtritis.
Sesampainya di Parangtritis, kita
istirahat dulu untuk sholat dzuhur. Sehabis itu, gua, Melda, Ulfah, Nurmai caw
ke pantai. Dan bener-bener gua nikmatin banget angin pantai, pasir pantai, ini
baru namanya refreshing!

Ok, disini gua bakal ceritain tentang Parangtritis.
PANTAI PARANGTRITIS
Parangtritis terletak adalah desa
di Kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Katanya, ceritanya sih dulu ada
seseorang yang melarikan diri dari Kerajaan Majapahit yang bernama Dipokusumo.
Pada saat dia akan bersemedi, dia melihat ada tetesan air dari celah-celah batu
karang, kata karang dalam bahasa Jawa adalah “Parang”, dan tetesan air tersebut
bisa disebut dengan kata “Tumatitis”, sehingga lahirlah nama daerah itu menjadi
Parangtritis yang berarti air yang menetes dari batu.
Pantai parangtritis diyakini
merupakan perwujudan dari kesatuan Trimurti untuk daerah Istimewa Yogyakarta,
yang terdiri dari Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan pantai Parangtritis
yang berada membentuk garis lurus dari utara ke selatan daerah Jogja.
Masyarakat setempat juga meyakini bahwa Pantai Parangtritis merupakan daerah
kekuasaan Ratu Selatan yang dikenal sebagai Nyai Roro Kidul yang menyukai
benda-benda berwarna hijau.
Namun, terlepas dari semua mitos
yang ada, pengunjung harus behati-hati, karena ombak dipantai ini bisa
terbilang sangat besar, landscape pantai ini pun sangat curam dan sangat
berbahaya oleh karena itu pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di
Parangtritis.
Selain kisah Nyai Roro Kidul,
pantai parangtritis juga dikisahkan sebagai tempat bertemunya Panembahan
Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah Panembahan Senopati selesai menjalani pertapaan. Selain terkenal sebagai
tempat rekreasi, Parangtritis juga merupakan tempat keramat, banyak pengunjung
datang untuk bermeditasi. Pantai ini juga merupakan salah satu tempat untuk
melakukan upacara Labuhan dari Keraton Yogyakarta.

Nah, cerita tentang Parangtritisnya
udah, sekarang gua mau cerita tentang gua sama anak-anak “Ngubur” Mae. Awalnya
sih kita lagi asik-asik aja foto-foto, shooting, main pasir, eh tiba-tiba gak
tau kenapa kakinya si Mae di kubur sama pasir, eh jadi berkelanjutan ke seluruh
badan -_-. Selesai main pasir, untuk ngeringin baju dari pasih kita main RTV
dulu, Rp. 50.000/RTV. Gua sama Melda, Ulfah sama Mae, kita seru-seruan disitu,
dan gua bener-bener nikmatin banget, bebas banget gua pas itu, gua teriak
bener-bener lepas.
Setelah puas main RTV, gua
ngunjungin pasar yang jual baju buat oleh-oleh. Gua beliin buat ade gua, dan
dress batik untuk gua sendiri, dan langsung dipake juga. Pas waktu itu juga gua
“dapet” jadi gua gak ke Musholla untuk sholat ashar. Ternyata samape di bus
semuanya lagi pada nungguin kita -_- dengan perasaan gak tega untuk duduk
karena (ehm) daleman gua basah gitu deh -_- dan akhirnya kita pulang sambil
nyanyi-nyanyi, ah itu gak bakal terlupakan deh ;’)
Sesampainya di hotel, start
duluan untuk urusan mandi, karena udah gak betah bangeeeeet! Selesai mandi, gua
beres-beresin baju-baju gua, dan siap untuk makan. Selesai makan, kita langsung
caw lagi tapi pertamanya ke pusat oleh-oleh baju gitu deh, eh terus langsung ke
Malioboro. Nah disini mulai uang gua tipis gak kerasa! Kemarin gua nge-poor
untuk belanja, sekarang malah gila-gilaan, tapi gua seneng semua keluarga gua
udah dapet.
Selesai hunting oleh-oleh, gua
sama Adhi jalan udah jauh banget disekitar Malioboro, dan ketemu tempat wiskul,
yaaa emang gak ada bedanya sih sama daerah Tangerang, bebek goreng. Yaa
Alhamdulillah makan malem itu bikin gua kenyang, dan kita pun lebih memilih
jalan daripada naik becak, padahal disitu kondisinya udah jam 10an. Dan Adhi
kasih saran untuk lewat jalan pintas, hampir kesasar karena lupa sama belokan,
untungnya masih bisa mikir logis, hahaha.
Kita mutusin buat beli cemilan
buat besok pulang, gua sama Adhi mampir ke salah satu minimarket agak jauh dari
hotel yang kita tempatin. Selesai beli keperluan untuk besok, kita lanjutin
perjalanan lagi. Dengan kaki gua udah ngesot-ngesot, capek banget weh -_- dan
akhirnya sampe juga di hotel! Nyampe hotel gua langsung ganti baju tidur yang
jadi dresscode malam keakraban.
Acara yang pertama adalah
sambutan dari Kepala Sekolah, Drs. Khairu Umat.

Acara yang kedua adalah
perwakilan salah satu dari wali kelas, Mrs. Erma Purwanti.
Acara yang ketiga adalah nyanyi
bareng-bareng, Semua Tentang Kita-Peterpan.
Acara yang keempat adalah TER-
Award
·
Guru Ter-Jutek: Ibu Fitri Agustin
·
Guru Ter-Fashionable: Ibu Wiji Nurhayati
·
Guru Ter-Sabar: Bapak Hanudin
·
Guru Ter-Galak: Bapak H. Musrin
·
Guru Ter-Favorit: Mrs. Erma Purwanti
Acara yang kelima adalah nyanyi
bareng-bareng,Terimakasihku.

Selesai acara itu, kita masuk
kamar masing-masing, packing-packing dan istirahat, jujur hari ini cape
bangeeeeet!
Senin, 6 Mei 2013
Setelah alarm bunyi, gua bangun
dan langsung mandi, habis itu packing. Selesai packing langsung makan, dan
beres-beres ngeluarin koper dan segala macem. Kita keluar hotel sekitar jam
7:00, tapi gak langsung otw Tangerang, tapi ada 1 tempat wisata lagi yang harus
dikunjungi, Goa Jatijajar.
Setelah sampai di Goa Jatijajar,
kita harus naik beberapa anak tangga sampai pada akhirnya sampai di Goa. Gua
udah mendapat peringatan untuk tetap pegangan pada pegangan yang tersedian,
karena kondisi didalam Goa licin. Ok, gua mau cerita tentang Goa Jatijajar.
GOA JATIJAJAR

Goa Jatijajar adalah sebuah Goa
alam yang terletak di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa
ini berbentuk dari kapur. Goa Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke
pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter, dan tinggi
rata-rata 12 meter, sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan
ketinggian dari permukaan laut 50 meter.

Asal muasal Goa Jatijajar tidak
banyak orang yang mengetahui secara persis, ada dua versi asal usul Goa
Jatijajar.
Pertama, setelah Jayamenawi
menemukan Goa, tak lama kemudian Bupati Ambal, salah satu penguasa Kebumen
waktu itu meninjau lokasi tersebut. Saat mendatangi Goa, dia menjumpai dua
pohon jati tumbuh berdampingan dan sejajar pada tepi mulut Goa. Dari kisah itu
lalu ditemukan istilah Jatijajar yang artinya jati yang sejajar.

Kedua, saat Kamandaka
dikejar-kejar, dari dalam Goa ia menyebutkan jati dirinya. Ia mengaku sebagai
putra mahkota Pajajaran. Dari kisah itu muncul kata sejatine (sebenarnya) dan
Pejajaran.

Setelah keliling-keliling Goa,
kita akhirnya cari oleh-oleh, dan makaaaaan! Kali ini gua makan gratis,
dibayarin Mae, terimakasih ya Mae ;D soto ayaaaaaam.
Selesai makan, kita lanjut ke bus
untuk melanjutkan perjalanan pulang. Gua tidur lagiiiiiiiiiiii!!!! Gak lama
tidur dan sampe di Brebes sekitar jam 16:30an gua makan dan pipis, sesudah itu
lanjut jalan lagi. Sekitar jam 21:00 sampe di daerah Subang, kita berenti cuma
sebentar, hanya untuk keperluan buang air aja. Kita melanjutkan perjalanan
lagi, gua tertidur bangun-bangun udah sampe Jakarta dan gua ngabarin bapak gua
kalo udah sampe di Jakarta.
Alhamdulillah, kita sampai
didepan sekolah tercinta dengan selamat sekitar pukul 01:55.

Temen-temen, terimakasih yah atas
waktu yang cukup singkat tapi berharga ini. Terimaksih kalian udah mau jadi
temen gua disaat susah maupun seneng. Terimakasih udah ngisi hari-hari gua
selama 3 tahun sekolah disini. Terimaksih kalian bukan Cuma temen gua, tapi
keluarga gua.
Maaf, kalo gua selama ini banyak
salah sama kalian. Maaf, kalo gua bercandanya kurang menyenangkan di hati
kalian. Maaf, kalo gua belum bisa jadi temen kalian yang baik.

Untuk guru-guruku, terimakasih
Pak/Bu telah membimbing kami kearah yang lebih baik selama 3 tahun ini.
Terimakasih, telah menganggap kami sebagai bagian yang sangat berarti untuk
kalian. Terimakasih, atas jasa-jasa yang pernah engkau berikan kepada kami.
Masih untuk guruku, maaf kalau
anakmu ini telah berbuat banyak kesalahan terhadap kalian. Maaf, kalau kami
pernah/sering tidak mengerjakan tugas dari kalian. Maaf, kalau kami sering
melawan dan tidak kapok terhadap sanksi-sanksi yang telah kalian berikan yang sebenarnya
itu baik untuk kami.
Sekarang, bermain dikelas,
paparazzi, makan bareng dikantin, sibuk saat mau praktek, pusing kalo mau ada
ulangan, tiduran di lantai sehabis olahraga, diomelin guru kalo melanggar
peraturan, semuanya sekarang tinggal jadi kenangan dan akan selalu teringat di
otak, dan itulah alasan gua jadi paparazzi dikelas, mengabadikan momen terakhir
di jenjang pendidikan.